Idham Chalid, Pemimpin Sederhana di Panggung Politik Indonesia
ESSENSI.CO, SEJARAH – Dalam perjalanan sejarah politik Indonesia, nama Idham Chalid tercatat sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar. Lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, Idham Chalid tumbuh dalam lingkungan sederhana, namun semangat pengabdiannya membawa ia masuk ke jajaran elite politik nasional pada masa awal kemerdekaan.
Dari Pesantren ke Panggung Nasional
Sejak muda, Idham dikenal tekun belajar dan aktif di dunia pergerakan Islam. Karier politiknya menanjak pesat melalui Nahdlatul Ulama (NU), di mana ia menjadi salah satu tokoh penting dalam mengarahkan sikap politik organisasi terbesar umat Islam di Indonesia tersebut.
Pada era Presiden Soekarno, Idham Chalid dipercaya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, sebuah posisi strategis di pemerintahan. Tak hanya itu, ia juga menduduki jabatan sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1960–1966, sebuah lembaga tinggi negara yang menjadi cerminan kekuatan politik bangsa.
Hidup Sederhana di Tengah Kekuasaan
Meski berada di lingkaran elit kekuasaan, gaya hidup Idham Chalid jauh dari kemewahan. Ia lebih memilih hidup sederhana, bersahaja, dan tetap dekat dengan rakyat kecil. Kesaksian banyak pihak menyebutkan, bahkan saat memimpin lembaga tinggi negara, ia tidak meninggalkan jejak kekayaan berlimpah.
Kesederhanaannya membuat Idham Chalid kerap disebut sebagai salah satu ketua lembaga tinggi negara “termiskin” dalam sejarah Indonesia. Julukan itu bukanlah cerminan kekurangan, melainkan simbol integritas seorang pemimpin yang menolak menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri.
Teladan yang Terlupakan
Selain kiprahnya di dunia politik, Idham Chalid juga aktif mengembangkan pendidikan dan dakwah. Ia berperan penting menjaga stabilitas politik pada masa transisi, ketika Indonesia menghadapi dinamika pergantian rezim dari Demokrasi Terpimpin menuju Orde Baru.
Warisan Idham Chalid bukanlah harta benda, melainkan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian. Sosoknya menjadi pengingat bahwa jabatan publik adalah amanah, bukan hak istimewa.
Hingga wafatnya pada 11 Juli 2010, Idham Chalid dikenang sebagai tokoh bangsa yang meninggalkan keteladanan besar: bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tetap berpihak kepada rakyat, bahkan di tengah gemerlap kekuasaan